Survei untuk Upaya Memahami Prilaku Gempa Bumi

Gempa bumi ialah fenomena alam yang belum dapat diperkirakan masa-masa kejadiannya, paling tidak hingga saya menulis tulisan ini. Banyak urusan yang masih misteri untuk para berpengalaman kegempaan guna meyakinkan masa-masa kejadian gempa bumi. Oleh karena itu, fokus mereka ialah pengurangan risiko yang terjadi dampak gempa bumi.

Seperti yang tidak jarang dikampanyekan, bahwa gempa bumi tidaklah membunuh, akan namun bangunan rubuh yang membunuh. Artinya, suatu bangunan dengan struktur atau konstruksi yang runtuh dampak goncangan gempa menjadi penyebab korban jiwa.

Kita sudah paling paham, bahwa Indonesia ialah salah satu negara yang rentan bahaya gempa bumi. Kerentanan bahaya gempa bumi di Indonesia adalah implikasi posisi Indonesia yang berada pada zona pertemuan 4 lempeng besar dunia dan sejumlah lempeng kecil yang mempunyai sifat lebih lokal.

 

Perilaku Gempa Bumi
Perilaku Gempa Bumi

 

Menurut http://www.pokertiam.net/ ke empat lempeng tersebut ialah empeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Laut Filipina, dan Lempeng Pasifik. Sedangkan guna lempeng-lempeng kecil menurut kajian geologi, geodesi dan seismologi ialah Burma, Sunda, Laut Banda, Laut Maluku, Timor, Kepala Burung, Maoke, dan Woodlark.

Hal itu menjadikan tektonik distrik Indonesia rumit dan unik untuk dipahami. Lebih jelas eksistensi keempat lempeng besar itu sebagaimana yang dperlihatkan pada gambar berikut.

Dalam 20 tahun terakhir, minimal ada sejumlah kejadian gempa bumi yang mempunyai kekuatan signifikan dan merusak.
Sebut saja gempa yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 (Mw 9.2), gempa di Nias 2005 (Mw 8.7), gempa di Jogjakarta 2006 (Mw 6.5), gempa di Pangandaran 2006 (Mw 7.8), gempa di Bengkulu 2007 (Mw 8.5), gempa di Padang 2009 (Mw 7.6), gempa di Mentawai 2010 (Mw 7.8) dan yang terakhir ialah gempa di Pidie Jaya (Mw 6.5). Secara keseluran kejadian gempa bumi yang pernah terjadi di Indonesia sebagaimana diperlihatkan pada gambar 2 berikut.

Setiap kejadian gempabumi, pasti akan menyerahkan pembelajaran penting. Setidaknya terdapat tiga aspek pembelajaran yang unik untuk dicerna dari masing-masing kejadian gempa bumi, yakni secara enginering, sains dan sosial. Ketiga aspek itu menjadi urgen untuk mengetahui prilaku gempa bumi dan dampaknya pada risiko yang barangkali terjadi.
Beberapa ketika setelah kejadian gempa bumi menjadi suatu moment penting, terutama untuk pemerhati gempa bumi. Hal ini dikarena masing-masing kejadian gempa bumi menyimpan latihan berharga. Sehingga paraberpengalaman kegempaan melakukan sejumlah item survey langsung ditempat kejadian.

Perlunya survei sesudah kejadian gempa dibicarakan dalam acara “Workshop Paska Kejadian Gempa, Survei dan Pengumpulan Data Sumber Gempa” yang diadakan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen) di Bandung 14 – 15 November 2017.

Selama dua hari para berpengalaman kegempaan Indonesia duduk bertukar pikiran dan bersinergi guna memahami keperluan survei dan pendataan data sesudah kejadian gempabumi. Para pemateri dalam workshop ini terdari dari berpengalaman geologi, geodesi, seismologi, kiat sipil dan ilmu sosial.

Belajar dari kejadian gempa yang terjadi di Pidie Jaya 2016 lalu, minimal ada sejumlah hal yang dilakukan sejumlah saat sesudah kejadian gempa bumi, yaitu:

Pemetaan kehancuran bangunan dampak gempa bumi
Merekam gempa susulan untuk mengetahui mekanisme gempa
Pemantauan retakan di permukaan (surface rupture)
Pemantauan kerentanan tanah dan likuifaksi
Melakukan survei perilaku sosial masyarakat ketika dan paska kejadian bencana
Kelima upaya yang dilaksanakan di atas adalah langkah mula untuk memahami gejala gempa bumi.

Data-data yang didapatkan pada langkah mula ini diramu dan diteliti untuk menjadi informasi yang berfungsi untuk pengurangan risiko gempa bumi di lantas hari. Dan tersebut yang menjadi destinasi kita, yaitu berjuang mengurangi akibat risiko dari kejadian gempa bumi yang pernah terjadi sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ˆ Back To Top